Selasa, 24 Februari 2009

CERPEN

Bunga dari Jepara

Europese Lagere School (ELS), Jepara, 1891

Gemerisik daun bambu diterpa angin pagi menanggalkan beberapa helai daun keringnya. Helai-helai daun itu menikmati masa terakhir di udara sebelum jatuh ke tanah. Dan, ada sehelai daun yang tersangkut dahan sebelum luruh bukan ke atas tanah, melainkan di rambut seorang gadis yang tengah berlari.

“Letsy, tunggu!”

Seorang gadis berlari setelah ia membuang daun kering yang luruh di atas kepalanya. Jarit yang membebat tubuhnya hampir tak bisa dikatakan ia tengah berlari. Sementara temannya yang berambut pirang menunggu di depan.

“Letsy, kita duduk di sana yuk bercerita-cerita”

Keduanya memilih duduk di bawah pohon waru yang rindang. Rerantingnya berdesik. Menciptakan hawa semilir di bawahnya. Letsy mengeluarkan bukunya. Sementara dirinya memandang aneh kepada sahabatnya akrabnya itu.

“Letsy ceritakanlah sesuatu kepadaku”

Letsy membuka bukunya. Namun bukan buku cerita yang ia tunjukkan kepada gadis pribumi itu, melainkan buku pelajaran bahasa Perancis. Gadis pribumi itu masih menunggu jawaban dari sahabatnya itu.

”Ni,” Kata Letsy ”Aku sekarang harus menghafal pelajaran Perancis”

“Ah, itukan dapat kau kerjakan di rumah, sebab itu bukan pekerjaan sekolah.”

“Benar katamu Ni, tapi kalau saya tidak belajar bahasa Prancis baik-baik, dua tahun lagi saya belum boleh pergi ke negeri Belanda. Karena saya ingin masuk sekolah guru. Kalau kelak nanti saya tamat, barangkali saya akan ditempatkan di sini. Dan saya tidak akan duduk di dalam kelas, tetapi di depan kelas. Nah, sekarang katakan kepadaku Ni, kamu kelak ingin jadi apa?”

Sepasang mata gadis Jawa itu menatap dengan penuh rasa heran. Sebab, yang baru saja terucap dari bibir karibnya itu sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya. Dan hati kecilnya membenarkan apa yang ditanyakan oleh sahabatnya. Ingin jadi apakah dirinya?

“Ayolah Ni katakan sekarang.”

Letsy mendesak Ni dan menggoyang tangan karibnya yang masih mematung. Gadis pribumi itu memutar otaknya, mengumpulkan seluruh tenaganya. Menyusun kata-kata untuk menjawabnya, tapi sia-sia. Ia tak kunjung mendapatkan jawabannya.

“Ayolah. Kau ingin jadi apa?”

Tanda masuk kelas sudah dibunyikan, sementara Ni belum juga menemukan jawabannya. Ni kecil sungguh tak memiliki jawaban untuk pertanyaan sesederhana itu. Dengan nada yang polos dan penuh kejujuran ia menggelengkan kepala sambil berkata pendek.

“Tidak tahu.”

***

”Tidak tahu?”

Ni bertanya pada cermin. Ia melihat wajah yang tampak begitu bodoh. Betapa tidak, otak yang bersemayam di dalam kepalanya tidak bisa menjawab pertanyaan yang sederhana. Pertanyaan itu tak kunjung juga berlalu. Hampir setiap malam sebelum dirinya tidur, pertanyaan itu selalu dipikirkannya. Begitu pula saat sepasang matanya yang masih sayu menatap fajar, pertanyaan itu juga tak kunjung pudar.

”Hendak jadi apakah aku?”

Ni kembali bertanya kepada cermin di depannya. Pertanyaan itu seharusnya tak menjadi mendung untuk pagi-paginya. Tapi, gadis seusianya musti menanggung pertanyaan sederhana yang hampir tak dapat ditemukan jawabnya.
Ia masih ingat kemarin, saat ia sepulang sekolah, ia segera menemui ayahnya. Nafas Ni membuat dadanya turun naik, sebab ia berlari tanpa henti dari sekolah menuju rumah. Hanya ingin mendengar jawaban dari ayahnya.

“Hendak jadi apakah aku nanti ayah?”

Dengan penuh harap cemas, Ni kecil menunggu jawaban ayahnya. Ayahnya tidak mengatakan sesuatu. Beliau hanya tersenyum dan mencubit pipi Ni. Namun, gadis Jawa itu tetap merengek-rengek meminta jawaban dari sang ayah.

“Harus jadi apakah gadis-gadis? Ya, menjadi Raden Ayu, tentu saja.”

Jawaban itu keluar begitu saja dari sepasang bibir. Tapi, itu bukan kata-kata milik ayahnya. Perkataan itu adalah milik kakaknya yang kebetulan mendengar pertanyaan Ni. Kakaknya menghampiri Ni dan mengatakan sekali lagi bahwa Ni kelak akan menjadi Raden Ayu yang memiliki budi pekerti dan nilai-nilai perempuan yang berderajat.

”Raden Ayu?,” Tanya Ni kepada cermin kembali ”Apa enaknya jadi Raden
Ayu?”

“Ni, Letsy sudah menunggumu!”

Ada suara ibunya di balik pintu kamarnya. Ni segera merapikan dandannya. Ia tak mau Letsy menunggu dirinya terlalu lama. Tapi tentu saja ia tidak akan mengatakan kepada karibnya bahwa dirinya kelak akan menjadi Raden Ayu. Ni memilih menyimpannya.

***

Ni memilih menyimpan semua keinginannya dalam hati. Air matanya mengiringi mimpi-mimpinya yang baru saja dikubur. Dan harapannya tinggal nisan bertuliskan kepupusan. Ni benci menjadi dewasa, sebab dewasa hanya akan membuatnya menderita.

Hal yang membuatnya menderita adalah ketakutannya. Ketakutan akan sebuah pintu kamar menguncinya dari luar. Menjauhkannya dari buku-buku. Menjauhkan dari segala kehausan akan ilmu. Ni musti menghadapi kenyataan. Sebuah pingitan.
Ni kecil kemarin berjalan dari sekolah ke rumah untuk terakhir kalinya. Matanya menjadi basah. Hatinya piluluka. Bibirnya mengatup kering dan gemetar. Tapi apa yang dirasakan oleh gadis polos kecil itu tak dapat disembunyikan lagi. Kedua matanya terlalu muda untuk menyimpan air mata. Ia uraiakan air mata itu sebisanya. Dia sadar, bahwa dengan tertutupnya pintu sekolah, berarti segala sesuatu yang dicintainya juga telah tertutup.

Sementara, pikiran kritis yang pernah diajarkan oleh pikiran Barat telah meletup-letup bersemangat, tetapi pada kedua tangan dan kakinya terbelenggu oleh rantai budaya Timur. Sedangkan otot-ototnya sangat lemah. Ia belum sanggup melepaskan diri dari belenggu yang mengikat itu. Kini pintu sekolah sudah tertutup rapat di belakangnya, sedangkan pintu rumahnya terbuka lebar untuk dirinya. Ia akan berada di sana selamanya. Ruangan itu juga kelak akan menjadi dunianya, alam semestanya yang dikelilingi oleh tembok tebal. Ia musti menikmati dunianya dalam sangkar.

Hari-hari Ni adalah hari-hari yang suram dan dia harus melaluinya. Seolah pasir waktu itu tersendat dan berhenti mengalir. Baginya matahari tak pernah bersinar mengisi pagi-paginya. Namun, diantara kebosanannya melihat lingkungan yang sama, orang-orang yang sama, Ni Kecil mendapatkan sedikit hiburan ketika Letsy datang mengunjunginya. Ia merasa menjadi Ni Kecil yang dulu lagi. Menjadi masa anak-anak yang penuh dengan kegembiraan. Ia melupakan pingitan yang senantiasa membelenggu dirinya.

Tentu saja Letsy tidak akan berlama-lama disangkarnya. Titik terang itu kembali padam. Kini di matanya hanyalah kegelapan dan belenggu itu makin kuat mengikat dirinya. Hidup yang penuh dengan kebosanaan itu akan terus berlangsung dan makin sunyi. Namun, sunyi itu pula yang mengajarkan Ni tetap terus membaca. Membaca dan memetik detik kehidupan yang terus mengalir bersama surat-suratnya.

Holland, 7 Juni 1898.

Ni, Anda adalah pelopor semangat muda wanita bangsamu. Lebih dari itu Andapun telah meretas jalan kemuliaan rakyat sini…Ya Ni, kudoakan semoga Anda bisa merealisasikan apa yang selama ini hidup sebagai buah mimpimu….
Ni melipat surat yang baru saja diterimanya. Lantas, ia melihat dunia luar lewat jendela. Ada angin yang menerpa rambut di keningnya. Ni berharap apa yang ada di surat itu benar. Sepertinya ia sudah tahu hendak jadi apakah dirinya. Ia hanya ingin menjadi wanita yang dihargai. Hanya itu, tidak kurang dan tidak lebih.

Terinspirasi dari Surat Abendanon, 2008
Karya Lubis Grafura

Minggu, 22 Februari 2009

GOING GLOBAL

GLOBALISASI






Senin, 16 Februari 2009

Ular Terbesar di Dunia Itu Bernama Titanoboa


Beberapa ilmuwan di Kolombia telah menemukan fosil monster prasejarah yang diduga sebagai ular terbesar di dunia yang pernah hidup di bumi. Ular yang diberi nama Titanoboa cerrejonensis itu diperkirakan memiliki berat lebih dari 1 ton dan panjang hingga hampir 14 meter.

Beberapa ilmuwan yakin ular ini hidup di bumi sekitar 58 juta hingga 60 juta tahun lalu. Ahli geologi, David Polly, yang memperkirakan ukuran dan bobot Titanoboa berdasarkan posisi fosilnya.

"Ukuran ular itu sungguh besar sekali. Namun, tim peneliti masih memikirkan seberapa besar panas bumi dibutuhkan untuk menghangatkan tubuh ular sebesar itu."

Fosil Titanoboa ditemukan oleh tim ilmuwan internasional di sebuah tambang batu bara di wilayah tropis Cerrejon, Kolombia. "Ular yang sangat besar ini benar-benar mengundang imajinasi, tetapi fakta yang ada telah melampaui fantasi yang ada di Hollywood sekalipun," kata ahli paleontologi, Jonathan Bloch, yang juga terlibat dalam ekspedisi.

"Ular yang mencoba mencaplok Jennifer Lopez di film Anaconda tidak sebesar ular yang kami temukan," kata Bloch. Berdasarkan ukuran ular itu, Bloch menjelaskan, tim ilmuwan dapat menghitung temperatur tahunan rata-rata di garis khatulistiwa Amerika Selatan 60 juta tahun lalu mencapai sekitar 33 derajat celcius, sekitar 10 derajat lebih hangat dibandingkan saat ini.

"Ekosistem tropis Amerika Latin saat ini berbeda jauh dibandingkan 60 juta tahun lalu," kata Bloch. "Kondisi hutan tropisnya hampir sama dengan saat ini, tetapi temperaturnya lebih panas saat itu dan dipenuhi dengan reptil berdarah dingin yang lebih besar."

Menurut Nature.com, ular adalah jenis hewan poikilotherms (berdarah dingin) yang memerlukan panas dari lingkungan mereka merayap untuk membangkitkan metabolisme. Oleh karena itu, ilmuwan memperkirakan ular raksasa itu hidup di ekosistem tropis Amerika Selatan dengan temperatur yang saat itu tidak berada di bawah 30 hingga 34 derajat celcius.

Sebagian besar populasi ular saat ini terdapat di wilayah tropis Amerika Selatan dan Asia Tenggara. Temperatur di Amerika Selatan dan Asia tenggara memungkinkan hewan ini berkembang hingga mencapai ukuran besar.

bioremediasi

Pengertian Bioremediasi


Bioremediasi merupakan penggunaan mikroorganisme untuk mengurangi polutan di lingkungan. Saat bioremediasi terjadi, enzim-enzim yang diproduksi oleh mikroorganisme memodifikasi polutan beracun dengan mengubah struktur kimia polutan tersebut, sebuah peristiwa yang disebut biotransformasi. Pada banyak kasus, biotransformasi berujung pada biodegradasi, dimana polutan beracun terdegradasi, strukturnya menjadi tidak kompleks, dan akhirnya menjadi metabolit yang tidak berbahaya dan tidak beracun.

Sejak tahun 1900an, orang-orang sudah menggunakan mikroorganisme untuk mengolah air pada saluran air. Saat ini, bioremediasi telah berkembang pada perawatan limbah buangan yang berbahaya (senyawa-senyawa kimia yang sulit untuk didegradasi), yang biasanya dihubungkan dengan kegiatan industri. Yang termasuk dalam polutan-polutan ini antara lain logam-logam berat, petroleum hidrokarbon, dan senyawa-senyawa organik terhalogenasi seperti pestisida, herbisida, dan lain-lain. Banyak aplikasi-aplikasi baru menggunakan mikroorganisme untuk mengurangi polutan yang sedang diujicobakan. Bidang bioremediasi saat ini telah didukung oleh pengetahuan yang lebih baik mengenai bagaimana polutan dapat didegradasi oleh mikroorganisme, identifikasi jenis-jenis mikroba yang baru dan bermanfaat, dan kemampuan untuk meningkatkan bioremediasi melalui teknologi genetik. Teknologi genetik molekular sangat penting untuk mengidentifikasi gen-gen yang mengkode enzim yang terkait pada bioremediasi. Karakterisasi dari gen-gen yang bersangkutan dapat meningkatkan pemahaman kita tentang bagaimana mikroba-mikroba memodifikasi polutan beracun menjadi tidak berbahaya.

Strain atau jenis mikroba rekombinan yang diciptakan di laboratorium dapat lebih efisien dalam mengurangi polutan. Mikroorganisme rekombinan yang diciptakan dan pertama kali dipatenkan adalah bakteri "pemakan minyak". Bakteri ini dapat mengoksidasi senyawa hidrokarbon yang umumnya ditemukan pada minyak bumi. Bakteri tersebut tumbuh lebih cepat jika dibandingkan bakteri-bakteri jenis lain yang alami atau bukan yang diciptakan di laboratorium yang telah diujicobakan. Akan tetapi, penemuan tersebut belum berhasil dikomersialkan karena strain rekombinan ini hanya dapat mengurai komponen berbahaya dengan jumlah yang terbatas. Strain inipun belum mampu untuk mendegradasi komponen-komponen molekular yang lebih berat yang cenderung bertahan di lingkungan.



Jenis-jenis bioremediasi


* Biostimulasi

Nutrien dan oksigen, dalam bentuk cair atau gas, ditambahkan ke dalam air atau tanah yang tercemar untuk memperkuat pertumbuhan dan aktivitas bakteri remediasi yang telah ada di dalam air atau tanah tersebut.

* Bioaugmentasi

Mikroorganisme yang dapat membantu membersihkan kontaminan tertentu ditambahkan ke dalam air atau tanah yang tercemar. Cara ini yang paling sering digunakan dalam menghilangkan kontaminasi di suatu tempat. Namun ada beberapa hambatan yang ditemui ketika cara ini digunakan. Sangat sulit untuk mengontrol kondisi situs yang tercemar agar mikroorganisme dapat berkembang dengan optimal. Para ilmuwan belum sepenuhnya mengerti seluruh mekanisme yang terkait dalam bioremediasi, dan mikroorganisme yang dilepaskan ke lingkungan yang asing kemungkinan sulit untuk beradaptasi.

* Bioremediasi Intrinsik

Bioremediasi jenis ini terjadi secara alami di dalam air atau tanah yang tercemar.


Di masa yang akan datang, mikroorganisme rekombinan dapat menyediakan cara yang efektif untuk mengurangi senyawa-senyawa kimiawi yang berbahaya di lingkungan kita. Bagaimanapun, pendekatan itu membutuhkan penelitian yang hati-hati berkaitan dengan mikroorganisme rekombinan tersebut, apakah efektif dalam mengurangi polutan, dan apakah aman saat mikroorganisme itu dilepaskan ke lingkungan.

BIOREMEDIASI


Bioremediasi mengandalkan reaksi mikrobiologis di dalam tanah. Teknik ini mengondisikan mikroba sedemikian rupa sehingga mampu mengurai senyawa hidrokarbon yang terperangkap di dalam tanah. Bioremediasi dapat dilakukan langsung di lokasi tanah tercemar (in-situ). Kita tak perlu repot menggali tanah dan memindahkannya ke lokasi khusus. Di Amerika Serikat (AS), teknik ini banyak diadopsi sebab biaya penggalian dan pemindahan tanah tergolong mahal. Sementara pada bioremediasi ex-situ, tanah tercemar digali dan dipindahkan ke dalam penampungan yang lebih terkontrol. Lalu diberi perlakuan khusus dengan memakai mikroba. Bioremediasi ex-situ bisa lebih cepat dan mudah dikontrol. Dibanding in-situ, ia pun mampu me-remediasi jenis kontaminan dan jenis tanah yang lebih beragam. Tidak Rumit Kunci sukses bioremediasi adalah dilakukan karakterisasi lahan (site characterization) dan treatability study. Menurut Idrus Maxdoni Kamil, ahli teknik lingkungan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), karakterisasi lahan tercemar, bukan hal rumit. Memang data yang diperlukan cukup banyak, seperti sifat dan struktur geologis lapisan tanah, lokasi sumber pencemar dan perkiraan banyaknya hidrokarbon yang terlepas dalam tanah. Sifat-sifat lingkungan tanah juga harus diketahui, mulai dari derajat keasaman (pH), kelembaban hingga kandungan kimia yang sudah ada. Karakterisasi lahan berfungsi pula mengetahui keberadaan dan jenis mikroba yang ada dalam tanah. Sesudah data terkumpul, kita bisa melakukan modeling untuk menduga pola distribusi dan tingkat pencemarannya. Salah satu teknik modeling yang kini banyak dipakai adalah bioplume modeling dari US-EPA. Di sini, diperhitungkan pula faktor perubahan karakteristik pencemar akibat reaksi biologis, fisika dan kimia yang dialami di dalam tanah. Dalam riset doktornya di Utah State University, AS, Maxdoni melakukan teknik bioventing. Cara ini merupakan salah satu teknik in-situ untuk memulihkan lahan yang tercemar bahan bakar jet JP-4, di Pangkalan Udara Militer Hill, Utah, tempat Angkatan Udara AS merawat mesin pesawat tempurnya, utamanya F-16 Fighting Falcon. ”Tanpa modeling yang baik, jutaan dolar bisa sia-sia karena melakukan bioremediasi di bagian yang salah. Dan jangan lupa untuk mempelajari betul karakteristik bahan pencemar,” tegas Maxdoni. Soal treatability study, Sri Harjati, peneliti Laboratorium Mikrobioteknologi Lingkungan, Pusat Antar Universitas, ITB menerangkan, ”Di laboratorium kami mencoba membiakkan mikroba yang cocok dengan senyawa hidrokarbon pencemar, dimulai dengan mikroba dalam tanah tercemar sendiri,” ujarnya. Pengkondisian paling sederhana adalah dengan menambah senyawa nutrien agar reaksi mikrobiologisnya optimal. Jika gagal, dicoba mikroba dari lahan lain. Referensi aplikasi bioremediasi di tempat lain akan sangat membantu. Rekayasa genetika terkadang juga perlu jika mikroba alamiah tak memuaskan hasilnya. Treatability study juga akan menyimpulkan apakah reaksi dapat berlangsung secara aerobik atau anaerobik. Dalam pilot project bioremediasi di stasiun kereta api Bandung, Sri Harjati dan kawan-kawan berhasil mengondisikan mikroba aerobik asli (indigeneous) agar mampu mengurai oli, solar dan senyawa hidrokarbon berat lainnya yang sudah terperangkap di dalam tanah stasiun. Semua yang berhasil dilakukan di pilot project dilaksanakan langsung di lokasi-lokasi yang ditentukan oleh karakteristik lahan. Namun karena dasarnya adalah hasil laboratorium dan pendugaan matematis, tak heran jika ada beberapa hambatan pada awalnya. ”Mikroba yang berhasil dibiakkan di laboratorium sering terhambat perkembangannya akibat kalah bersaing dengan mikroba lain, jamur atau protozoa yang sudah ada dalam tanah,” jelas Sri. Dalam pilot project di Stasiun Bandung dengan teknik ex-situ, yaitu landfarming dan bioaugmentation, kandungan senyawa hidrokarbon dalam tanah diturunkan sampai 70 hingga 90 persen setelah lima bulan. Bioremediasi in-situ memang belum banyak dipraktekkan di Indonesia. Padahal potensinya sangat tinggi mengingat tanah kita sangat kaya akan berbagai jenis mikroba. Apalagi tanah di Indonesia sangat lembab. Peralatan canggih sudah tersedia di beberapa laboratorium. Ahlinya sudah tersebar di berbagai institusi, seperti ITB, Unpad, IPB, LIPI, Lemigas, BPPT dan beberapa perusahaan swasta lainnya. Sayang, kesempatannya masih terbatas. Mudah-mudahan perusahaan minyak atau instansi lainnya dapat melihat potensi besar ini. Lebih penting lagi, mereka mau melibatkan tenaga ahli Indonesia untuk melakukan bioremediasi. Nah, lebih penting lagi kalau semuanya mau turun tangan.


What is Bioremediation?

Bioremediation or bioaugmentation is the process of using naturally occurring microbes to digest and convert unwanted waste material into harmless substances. Our bioremediation products use "friendly bacteria" to digest and covert FOG into carbon dioxide and water.


BioRemediation Illustration

























Here is how it works:

A: The waste material is examined and certain bacteria are isolated based on their efficiency at digesting and converting the waste.

B: The bacteria then go through a series of tests for performance and safety.

C: Biostim®'s bacteria are next placed back in the waste environment in high concentrations.

D: The Biostim® bacteria grow and thrive and in the process digest and convert the waste into carbon dioxide and water.

E: The bacteria die-off naturally.

Kuartet Bakteri Bioremediasi

Tidak sembarang bakteri bisa dipakai dalam bioremediasi. Tri Widiyanto menggunakan empat macam bakteri dalam percobaan ini.

Konsorsium bakteri ini dimasukkan dalam tambak dua minggu sebelum bibit ditebar, selanjutnya setiap 10 hari sampai masa panen. Tiap satu hektare tambak memerlukan 120 liter tiap 10 hari selama dua bulan pertama. Selanjutnya sampai bulan keempat, dinaikkan dua kali lipat dengan konsentrasi yang sama.

Percampuran kultur bakteri ini dilakukan dengan perbandingan bakteri heterotrofik, bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi, serta bakteri fotosintetik anoksigenik sebesar 3 : 2 : 1.

1. Bakteri denitrifikasi dan nitrifikasi untuk mengendalikan nitrogen, amoniak, nitrat, dan nitrit yang ada di tambak.
2. Bakteri fotosintetik anoksigenik untuk mengatur hidrogen sulfida (H2S) dan sebagai pakan tambahan karena banyak mengandung karotenoid.
3. Bakteri heteroptrofik untuk mengontrol karbon dan senyawa organik dari sisa pakan.
4. Bakteri fermentasi untuk menghilangkan senyawa organik dengan cepat karena punya sifat proteolitik.

Isolat bakteri dikumpulkan dari contoh air dan sedimen tambak dari tiga lokasi di Moramo di Sulawesi Tenggara, Teluk Naga di Tangerang, dan Kasemen, Serang.

- Bakteri nitrifikasi
Dari 13 isolat, berhasil diseleksi empat isolat yang potensial menghilangkan senyawa amoniak.
Masa inkubasi: 3-5 hari.

- Bakteri denitrifikasi
Dari 14 sampel sedimen tambak PT Indokor-Serang, Teluk Naga-Tangerang, dan Moramo-Kendari, telah diisolasi 15 isolat bakteri. Hasil seleksi, tiga isolat potensial menghilangkan senyawa nitrit dan nitrat.
Masa inkubasi: 3-5 hari.

- Bakteri fotosintetik anoksigenik
Dari 10 isolat, hanya satu yang bagus untuk menghilangkan H2S dan satu lagi potensial menjadi sumber karotenoid pakan tambahan.
Masa inkubasi: 5-7 hari.

- Bakteri Heterotrofik
Dari lima isolat bakteri heterotrofik, yang potensial hanya satu.
Masa inkubasi: 2-3 hari.